Minggu, 24 Juli 2016

Hijrah Seorang Adik (Oneshoot)





Hijrah Seorang Adik

            Islam. Agama yang masuk di perairan Indonesia sejak abad awal masehi. Bangsa Indonesia di kenal sebagai bangsa yang ramah dan terbuka pada bangsa-bangsa asing. Sikap ramah dan terbuka tersebut menjadi jalan bagi masuknya pengaruh agama dan budaya Islam di Indonesia. Sebelum hadirnya agama Islam, sebagian besar masyarakat Indonesia menganut ajaran Budha dan Hindu, dan ada beberapa yang masih menganut ajaran nenek moyang.
            Bagi seorang muslim, Islam merupakan agama yang begitu indah dan penuh dengan cinta. Islam mengajarkan umatnya untuk saling menghormati satu sama lain, toleransi antar umat beragama, patuh dan taat, kepemimpinan dan juga keyakinan yang teguh. Banyak hal yang menjadikan Islam itu sangat berarti bagi pemeluknya.
Dan kisah ini dimulai dari sebuah ketidaktahuan seorang gadis muslim akan agamanya sendiri.
Tiga tahun yang lalu menjadi masa-masa tersulit bagi Nayla Al-Nasyid, gadis cantik bergaya tomboy yang memiliki seorang kakak bernama Amar Al-Nasyid, dia dan  juga kakaknya kehilangan panutan dan pahlawan mereka. Sang Ayah.
Ayah mereka sudah menderita cukup lama dengan penyakit yang beliau derita. Kanker darah yang lebih di kenal dengan istilah Leukimia dalam bidang kedokteran. Disaat kepergian sang Ayah, Nayla yang biasa dipanggil Nana itu dengan seketika menutup dirinya. Dia sempat mengurung diri selama tiga hari didalam kamarnya.
Amar, yang merupakan sang kakak satu-satunya, tentu sama terpukulnya. Namun, ia berusaha menutupi kesedihan itu, untuk membuat ketegaran sang adik dan juga sang Ibu kembali seperti sedia kala.
Hari ke hari, bulan berganti tahun, kenangan itu pun mulai terkubur. Cukup hanya kenangan manis yang terkenang di benak masing-masing. Kini, Nana sudah berada di tahun ketiga sekolah menengah atas. Dan Amar juga sedang menyelesaikan tugas akhirnya di bidang arsitektur.
“Mas Amar, Nana berangkat sekarang. Mama juga sudah berangkat sejak tadi,” teriak Nana ketika sudah mengikat tali sepatu miliknya.
Pagi itu, sang kakak Amar memang tak sengaja telat. Dan pada akhirnya Nana harus berangkat sendiri menggunakan angkutan umum, tidak seperti biasanya. Amar dan Nana, sekali melihat pun orang-orang akan tahu bagaimana kedekatan mereka berdua. Seakan sudah ada benang yang menghubungkan mereka satu sama lain. Amar yang sejak kecil selalu melindungi Nana dari apapun, segala hal yang akan menyakiti adiknya.
“Na, pulang nanti, temenin ke mall ya, ada novel baru nih,” seorang gadis cantik menghampiri Nana yang sedang asyik menikmati jus orange nya dikantin sekolah, dan ikut duduk di hadapannya.
“Sya, aku mau nanya. Apa nggak kepanasan tuh kepala? Ngapain sih pake jilbab kayak gitu, kan nggak gaul Sya!” ucap Nana.
Syarahmah, yang biasa Nana panggil Syasa itu hanya tersenyum ramah dan mengerti apa maksud Nana. Awalnya pun ia berpikir hal yang sama dengan Nana, kenapa dia memilih memakai jilbab? Yang mengharuskan semua anggota tubuh harus tertutup.
“Ini kewajiban Na, ini kewajiban kita sebagai muslim untuk menutup aurat. Coba deh, kamu pasti suka.”
Nana tersenyum kecut kearah Syasa dan terlihat tak berminat lagi untuk melanjutkan pembicaraan tersebut.
 Nana dan Syasa, dua pribadi yang sangat berbeda. Namun, mereka nyaman satu sama lain dengan ikatan persahabatan yang mereka miliki. Saat pertama kali Syasa memilih untuk mulai memakai jilbab, Nana sangat terkejut akan perubahan sahabatnya itu. Ketika ditanya, apa yang membuat Syasa memilih jalan tersebut.
Gadis cantik bersenyum indah itu hanya akan menjawab, “Berjilbab merupakan kewajiban seorang gadis muslim. Kewajiban untuk menutup aurat, agar tidak menimbulkan zina.” Dan telinga Nana cukup pegal untuk mendengar jawaban Syasa yang selalu sama itu.
***
Ketika hari libur, Nana menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk membaca komik kesayangannya. Detective Conan. Meski begitu, Nana cukup memiliki prestasi di sekolah, dia selalu masuk kedalam 5 murid terbaik yang memiliki nilai tertinggi di kelas. Kecerdasan sang Ayah menurun kedirinya dan juga sang kakak.
“Na, selama sebulan Mas akan ke Kediri,” sang kakak yang baru saja pulang, langsung duduk di samping Nana.
“Ke Kediri? Selama sebulan? Mas, kalau Mas pergi, Nana sama siapa di sini? Rasanya sepi jika sehari saja Mas tak ada. Mama juga selalu sibuk di kantor, Nana tak punya teman Mas,” Nana mulai merengek pada kakaknya, berharap sang kakak tak akan pergi.
“Kan masih ada Syasa Na, Mas nggak mungkin membatalkan keberangkatan Mas, ini juga demi tugas akhir Mas. Kamu mau, Mas tak lulus-lulus dan terus seperti ini?”
Nana terdiam, lalu tak lama ia menggelengkan kepalanya, “Nana juga tak ingin mas tak lulus, kalau begitu Nana ikut ya mas?”
“No, no, no! Sekolahmu bagaimana? Mama? Dan ini bukan liburan Na, Mas akan sibuk disana. Mas juga akan mengerjakan proyek untuk kerja part time Mas.”
Nana hanya bisa tertunduk lesuh. Kecewa. Dia pun melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan malas. Dia tak ingin jauh dari Amar. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama kakaknya itu.
Di hari keberangkatan Amar pun, Nana tak bisa turut mengantarnya ke bandara. Dikarenakan ujian praktik yang tak bisa ia tunda. Akhirnya, Nana hanya bisa menanti kepulangan sang kakak dengan sabar.
***
Sebulan 18 hari, terlewat. Begitulah waktu yang Nana hitung hingga hari kepulangan Amar. Sudah sejam Nana dan Ibunya menunggu di bandara, namun batang hidung sang kakak tak muncul juga. Nana mulai mengantuk.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu,” salam seseorang yang datang menghampiri mereka, yang tak lain dan tak bukan adalah Amar Al-Nasyid.
“Mas…” secara bersamaan Nana dan sang Ibu berdiri, menatap lekat seseorang yang sebulan lebih tak mereka lihat.
“Assalamualaikum, Ma, Dik Manis,” ulang Amar memberi salam.
“Walaikum sallam, mas.”
Nana yang hampir tak berkedip itu pun jalan mendahulu Amar dan Ibunya, dia terkejut dengan perubahan sang kakak. Memakai baju kokoh, dan di bawah dagunya pun sedikit ada bulu halus yang mulai tumbuh. Terkesan mendadak dan terlalu cepat, hingga membuatnya hampir tak bisa mengenali kakaknya sendiri.
***
Sebulan setelah kepulangan Amar dari Kediri. Perubahan yang semakin terlihat akan diri Amar mulai membuat Nana muak dan frustasi. Pasalnya, setelah kepulangan Amar dari Kediri, tak ada lagi Amar yang selalu mengantar Nana kemanapun Nana pergi. Tak ada lagi Amar yang akan terus memanjakannya seperti dulu.
“Mas, berhenti bertingkah seperti ini Mas. Jangan pernah ceramah di depan Nana. Apa Mas tahu, perubahan Mas ini membuat Nana bisa membenci Mas.”
Mendengar ucapan sangat adik, Amar hanya beristighfar. “Mas sudah berubah, Mas nggak peduli lagi dengan Nana, Mas tak seperti dulu.” Nana pun berlari menuju kamarnya. Membanting pintu kamarnya hingga terdengar dentuman keras karenanya.
“Bukan maksud Mas seperti itu Dik.”
Setelah pertengkaran Nana dan Amar terakhir kali, Nana memutuskan untuk tinggal beberapa hari di kediaman sang Bibi yang berada di Jakarta Selatan. “Nana sayang, ada temanmu tuh, keluar gih!” ucap sang Bibi yang baru saja membukakan pintu untuk tamu yang katanya merupakan teman Nana.
“Iya, Bi. Nana keluar dulu.”
Nana melangkah keluar, menuju ruang tamu. Baru berjarak kurang dari satu meter, Nana sudah tahu siapa yang datang mencarinya itu. Hanya Syasa yang tahu, jika ia tinggal di tempat Bibinya untuk beberapa hari.
“Na, ceritanya kamu kabur nih?” Nana hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Syasa.
“Sebenarnya kalau dibilang kabur sih nggak, soalnya Mama sama Mas Amar tahu kalau aku ada disini.”
“Ada masalah apa sih, sampai milih tinggal disini? Katanya nggak mau jauh-jauh dari Mas Amar.”
“Justru ini masalahnya ada di Mas Amar, Sya. Mas Amar nggak sayang lagi sama aku, dia sudah berubah. Sebelas dua belas sama kamu, nggak ada bedanya. Setiap hari terus menceramahiku, inilah itulah. Sudah cukup aku mendengar kamu berbicara mengenai agama di sekolah. Dan sekarang Mas Amar pun juga begitu, bahkan lebih parah.”
“Loh, bukannya bagus. Itu berarti Mas Amar sudah menemukan jati dirinya Na. Dia sudah menemukan jalan kebenaran. Istiqomah, itu point yang paling penting.”
“Istiqomah?” Nana bahkan tak mengerti sama sekali dengan satu kata itu.
“Iya, Istiqomah. Yang berarti terus berada di jalan Allah, tak akan pernah tergoyahkan akan godaan duniawi.”
“Ah, aku tak mengerti. Belajar agama sama rumitnya dengan belajar matematika. Sin cos, bla bla bla. Hanya bisa membuatku pusing.”
Tak lama terdengar suara langkah seseorang yang mulai mendekati mereka. Itu, Bibi Nana. Dan dia juga terlihat membawa sesuatu. Sang Bibi pun langsung duduk di samping Nana.
“Na, islam itu indah Na,” ucap Bibi. Dengan tiba-tiba sang Bibi memakai kan sebuah jilbab pada Nana.
“Cantik,” kata Syasa riang.
Nana melihat dirinya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Di pegangnya dadanya. Jantungnya berdetak begitu kencang, dan sedikit membuatnya nyeri. Tak lama, beberapa tetesan air mata, menetes begitu saja dari mata indah Nana. Nayla Al-Nasyid.
“Bi, sepertinya selama ini Nana sudah salah,” Nana menyandarkan kepalanya pada bahu sang Bibi.
“Apa sekarang waktunya?” tanya sang Bibi.
Nana mengangguk, “Nana akan belajar, perlahan namun pasti. Nana akan mulai dari yang terkecil.”
“Dari yang terkecil, seperti apa?” tanya Syasa.
“Belajar mengaji dan mulai memakai jilbab. Setelah itu, mendalami ilmu islam lebih dalam lagi.”
Mendengar hal itu, Syasa dan Bibi Nana tersenyum bahagia. Melihat ada secerca harapan dan keinginan yang kuat di diri Nana untuk berubah. Malam itu juga, Nana pun bergegas pulang menuju rumahnya. Menemui Amar dan Ibunya. Dia pun langsung meminta maaf pada sang kakak, dan meminta dukungan serta bantuan agar kakaknya dapat membantunya untuk melewati jalan yang akan mengantarkannya akan perubahan yang lebih baik.
“Dengan keyakinan akan kebenaran Islam. Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah hamba akan berhijrah kejalan kebenaranmu.” – Nayla Al-Nasyid.


Our Marriage ( Happy Ending? Sequel)







Our Marriage (Happy Ending? Sequel)

            Suara lembut yang mengajakku menikah dua minggu yang lalu, tak lagi terdengar oleh indera pendengaranku setelahnya. Malam itu, Derry memintaku untuk berpikir-pikir lagi akan perasaanku padanya. Dia juga memberiku waktu satu bulan lamanya. Untuk memikirkan hal tersebut.
            “Selama sebulan ini, lo harus mikirin perasaan lo yang ngga tentu arah itu. Dan selama sebulan itu juga, gue bakal balik ke London untuk ngurus study master gue disana. Bulan depan gue bakal balik ke Indonesia dan siap untuk mendengar jawaban dari lo. Nashee Adriani Dallas,” ucap Derry malam itu sebelum melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah keluargaku –Dallas Family’s – .
***
-Nash, kabar lo gimana disana? Hati lo apa kabar?-

Aku mendengus kesal, membaca pesan yang baru saja ku terima dari Derry malam ini. Ngga bisa apa yak, dia lebih romantis lagi? Ya kali aku bakal nerima dia dengan sifat dingin dan menyebalkannya dia.
-Jngan ngambek, Cuma karena gw ngga bisa romantis Nash-

Mataku melotot setelah kembali membaca pesan kedua Derry. Bagaimana dia bisa tahu aku sedang memikirkan sikapnya yang tidak peka itu. Ya, semenjak kehadirannya lagi yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Perasaan itu pun kembali muncul, seiring dengan mengenal Derry beberapa hari ini melalui via massage ataupun telpon.
Masih enggan untuk membalas pesan darinya, tak lama ponselku kembali berdering. Menampilkan nama Derry Darama Abraham di layarnya.
“Assalamualaikum,” ucapku kesidikit gugup.
“Walaikumsallam, Nash…”
“Hm…”
“Kok pesan gue ngga lo balas sih? Gue butuh kepastian nih, kan besok gue bakal kerumah lo,” gumamnya di seberang sana, entah dia sedang apa.
Kenapa aku bisa sepikun ini. Besok tepat satu bulan kepergian Derry untuk memberiku waktu menata hati yang tak tentu arah ini. “Sorry Der, gue lupa.”
Tak ada sahutan dari seberang. Hanya sebuah helaan napas yang bisa ku dengar. Apa aku mengecewakannya?
“Nash, lo masih benci sama gue?” tanya Derry, terdengar hati-hati.
“Kalau memang iya, gue bisa apa Nash. Mungkin kesalahan gue di masa lalu terlalu besar buat lo. Sekali lagi gue minta maaf…”
Aku masih berdiam diri, masih enggan untuk menjawab setiap ucapannya. Bukan benci Der. Gue udah ngga benci sama lo. Mungkin kecewa?
“Tapi, hati-hati loh. Benci sama cinta itu beda tipis. Tipiiiis banget bagi gue. Apa lagi yang benci sama gue itu lo,” candanya. Ku dengar Derry sedikit terkekeh dengan ucapannya sendiri. “Ngomong kek Nash, gue kaya orang bego gini bicara sendiri.”
“Gue ngga benci sama lo Der…”
“Terus?”
“Kecewa?” suaraku semakin terdengar lirih.
“Maaf atas segalanya Nash. Gue ngga pengen kehilangan lo lagi. Gue ngga mau jadi orang bodoh untuk kedua kalinya.”
 Mendengarnya mengatakan itu, membuatku tertawa. “Loh, kok lo ketawa?”
“Sejak kapan sih lo semanis ini Der? Dulu aja, kalau gue sapa, lo cuma bisa nunduk dan jawab ‘iya’ ke gue.”
“Itu karena gue ngga berani natap lo kali Nash,” ketusnya.
“Segitu sukanya ya lo sama gue?” aku kembali terkikik geli. “Wah, ngga nyangka cinta gue yang dulu ngga bertepuk sebelah tangan,” gumamku bahagia.
“Sekarang malah cinta gue yang terancam bertepuk sebelah tangan…”
Makin kesini ucapan Derry makin terdengar manis. Entah mengapa, kupu-kupu dalam perutku seakan beterbangan. “Gue pikir kali ini tak ada yang bertepuk sebelah tangan lagi.”
Sejenak kami sama-sama berdiam. “Hmm… udah malam gini, belum tidur?” tanya Derry.
“Belum ngantuk. Lo ada dimana sih, suara lo menggema gini?”
“Gue? Ini gue lagi ada di depan apartement lo.”
WHAT? Buru-buru aku melangkah mendekati pintu apartement yang menjadi tempat tinggalku di Bandung. Yah, malam ini aku masih tidur disini. Niatnya, besok pagi baru kembali ke Cimahi, kerumah kedua orang tuaku.
“Hai… Nash!” sapa Derry dengan senyum indah yang melekat diwajahnya.
“Masuk Der,” ucapku.
Derry mendudukkan dirinya, di sebuah sofa yang berada di ruang tengah apartement yang tak begitu luas ini. “Besok gue bakal bawa kedua orang tua gue lagi, buat lamar lo.”
Ekspresi Derry berubah menjadi sangat serius. Tanpa basi-basi, dia langsung menyampaikan apa yang mungkin ia pikirkan sejak tadi. “Hah? Loh, bukannya waktu itu udah ya?” tanyaku polos.
“Waktu itu gue cuma pengen ngikat lo aja Nash. Gue ngga pengen keduluan orang lain. Sebelum gue balik ke London, gue mau kita udah ada ikatan serius jadi lo ngga bakal nerima lamaran orang lain,” dasar kekanak-kanakan.
“Gue dengar-dengar sepupu Falah ngajak lo tunangan?” tanyanya tak lama.
Aku hanya menggaruk tengkukku yang sebenarnya tak gatal sama sekali. “Ya, faktanya itu emang bener. Lo tahu dari mana dah?”
Aku senang, akhirnya kami bisa berbicara santai seperti ini. “Ngga penting gue tahu dari mana. Yang pasti hati lo itu masih milik gue kan, Nash?”
Aku tertegun. Pertanyaan gila dengan ekspresi datar milik Derry memang tak pernah terduga. Dulu, aku memang sering ngintilin dia kemanapun dia pergi. Entah, dia merasa atau ngga. Tapi, satu fakta yang baru aku tahu. Derry type orang yang tak bisa di tebak. Sering kali datar. Kadang sifat manisnya yang meledak-ledak. Ya, baru itu yang ku rasakan selama kami saling berhubungan lewat social media.
“Ha.Ha.Ha pede banget lo,” ucapku dengan sarkartis.
“Pede dikit ngga masalah dong. Hati itu masih milik gue kan, Nash?” tanya Derry. Lagi.
GUE BUNUH JUGA LO!!!
“Iya dah iya… hati gue masih milik lo. Puas??” ketusku.
Derry tertawa sebelum bernapas legah. “Makasih Nash.”
“Kayaknya gue udah gila deh. Bisa luluh lagi sama lo, sama orang yang udah buat gue sakit hati tingkat dewa. Bikin gue mewek ngejer,” sesalku.
Bukannya menimpali ucapanku. Derry justru memelukku sangat erat. Untuk pertama kalinya. Tiba-tiba saja udara ruangan ini semakin berkurang menurutku. Jantungku yang sejak tadi sudah tak bisa berkompromi makin parah karena ulah Derry yang mendadak ini. “Der, bukan mukhrim.”
Derry melepas pelukannya dan menyegir kuda kearahku. “Pertama, terima kasih karena lo udah ngejaga hati lo buat cowok brengsek kayak gue. Dan yang kedua, gue minta maaf karena udah buat lo sakit hati dan buat lo akhirnya menangis.”
***
Ku lihat Derry sudah tertidur pulas di atas ranjang king size di kamar hotel tempat kami menginap. Sesuai dengan perkiraan kalian. Yup, aku dan Derry baru saja menyelesaikan ritual yang biasa orang bilang resepsi pernikahan. Karena banyak rekan bisnis Papa dan juga Ayah Derry yang datang, ku yakini Derry sama lelahnya sepertiku yang sudah tak kuat untuk berdiri lagi.
Namun, karena kebiasaanku yang harus mandi sebelum tidur akhirnya ku paksakan kakiku melangkah masuk kedalam kamar mandi. Mengisi penuh bath-up dengan air dan memilih untuk berendam untuk merilekskan saraf-sarafku yang kuyakini sudah tegang sejak tadi.
Setelah selesai, aku melangkah keluar dengan hanya memakai kimono yang ada di dalam kamar mandi hotel. Ku lihat Derry tak ada lagi di tempatnya. Ku putar pandanganku kearah balkon kamar. Tebakanku benar. Derry berdiri terpaku di sana, dengan kedua tangan yang di lipat di depan dadanya.
“Tak ingin mandi?” tanyaku, ikut berdiri di sampingnya. “Cuaca cukup cerah, bintangnya lumayan banyak malam ini,” gumamku mencoba basa-basi, yah untuk mengusir kecanggungan yang menghinggapi kami.
Aku menoleh untuk sekedar melihat wajah lelah Derry, dia tersenyum sembari membuang muka ke udara, “Mereka seperti ikut berbahagia bersama kita,” lirihnya.
Dengan berani aku memeluk Derry dari samping, menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. “Makasih Der,” suaraku dengan sedikit terisak.
Air mata kebahagiaan tak dapat lagi ku tahan, Derry melepas dekapannya padaku. Menatapku lembut, tak lama sentuhan lembutnya di wajahku dapat kurasakan. Menghapus air bening yang mengalir indah di pipi ku. “Jangan nangis dong Nash, gue jadi pengen nangis juga,” cibirnya. Dramatis. Dan terkesan L.E.B.A.Y!
Ku cubit perutnya gemas, “Romantis dikit kek Der. Suasananya lagi gini, masih aja ngomong ngasal. Ngga lucu tahu ngga?”
Di tertawa kecil, kemudian menarikku masuk kedalam dekapan hangat miliknya. Menghirup aroma tubuh yang sekarang menjelma menjadi ‘suami’  bagiku, mungkin kegiatan ini akan menjadi candu bagiku. Aroma mint yang menyeruak dari napasnya yang menerpa kulit leherku. Darahku berdesir, membuat tubuhku terserang stroke untuk beberapa detik. Katakan aku lebay ataupun kekanak-kanakan. Seperti anak ABG yang baru pertama kali merasakan apa itu cinta. Dan merasakan bagaimana di hargai oleh orang yang kita cinta.
“Huuh,” lenguhku. “Der, disini dingin. Masuk yuk, terus kamu mandi. Aku ngga mau tidur sama orang bau,” ucapku kalem. Meninggalkan Derry yang terlihat kesal karena ucapanku.
Selagi Derry membersihkan diri. Aku memilih untuk menonton siaran TV. Berhubung sebelum pulang kami sudah mengisi perut jadi tak akan ada yang kelaparan malam ini, jadi aku memilih menonton acara TV tengah malam. Yang katanya, memiliki rating 21+ . Sejujurnya aku belum pernah nonton film yang ‘iya iya’ selama ini. Maklum masih anak Mama dan Papa jadi masih tahu diri lah. Mana yang boleh dan mana yang tidak.
“Ehem,” deheman Derry hanya membuatkah terkekeh namun tetap menghiraukannya. “Nonton apaan sih? Serius banget,” ucap Derry. Menjatuhkan bokongnya tepat di sebelahku.
Derry mengikuti arah pandangku, sepertinya dia juga tertarik. Di tengah keseriusan kami. Tiba-tiba saja, adegan di film itu membuatku bergidik ngeri. Tanpa terasa tanganku sudah sedikit mendingin dari sebelumnya, belum lagi air keringat yang tiba-tiba berucucuran di pelipisku. Lagi-lagi, aku seperti anak di bawah umur, yang merinding menyaksikan adegan ranjang yang panas itu. Duh, malu sendiri.
Aku menoleh kearah Derry. Dia masih serius dengan ekspresi datar miliknya. Aku kembali menghela napas untuk kesekian kalinya. Hingga akhirnya, Derry merebut remote TV dari genggamanku. Menekan tombol merah , yang berarti ia mematikan TV dengan seenaknya.
“Kok malah di matiin sih?” tanyaku sebal. Aku berdecak kesal, lalu bangkit dari sofa menuju pantry.
Aku tahu, Derry pasti mengikutiku. Dapat ku dengar langkah kakinya yang berjalan tepat di belakangku. Hingga, ku rasakan tangan kekarnya menarik tanganku dengan tidak sabarnya. Aku menatapnya tajam, seakan bertanya ‘kenapa?’
Derry mengecup singkat bibirku. Tentu saja aku membelalakkan mataku, karena sedikit terkejut. Manis. Itu yang ku rasakan beberapa detik yang lalu. Ku lihat Derry tersenyum, namun malah seperti seringaian bagiku. Buru-buru aku berubah haluan, masuk kedalam kamar dan menenggelamkan diri di bawah selimut tebal milik kami malam ini.
Aku tahu, di tempat ini Derry semakin leluasa melaksanakan rencana gila yang dapat ku tangkap dari tatapan mesum miliknya tadi.
Seperti dugaanku, kurasakan ranjang sedikit bergoyang karena kedatangan Derry. “Nash, kok malah kabur sih?”
“Muka kamu mesum banget tadi. Aku takut sendiri,” keluhku masih menutup diri.
Ku dengar Derry tertawa, bahkan sangat keras. Aku menyisihkan selimut dari tubuhku. Melihatnya yang masih asyik tertawa. Tepatnya menertawakan diriku yang kekanak-kanakan?
“Kamu lucu, aku makin cinta sama kamu.”
“Duh, kok jadi anak ABG gini?” tanyaku, menepuk jidat asal.
Derry kembali terkekeh, “Biarin!” sebelum menimpali ucapannya. Sudah kurasakan kecupan kilat yang ia lakukan. Lagi. Yah, itu awalnya.
Kecupan singkat yang kudapatkan darinya, hanya mendapat balasan tegang dariku. Ku lihat dia kembali tesenyum manis kearahku. Aku sedikit kesal, dia seperti mempermainkanku. Dengan cepat ku sambar bibir penuh miliknya. Aku tahu dia cukup terkejut dengan tindakanku. Namun, ku rasakan seringaiannya di tengah ciuman kami. Dia menarik tengkukku untuk memperdalam ciuman kami. Tanganku bertengger di antara dada bidang miliknya.
“Untuk malam ini, cukup sampai sini ya sayang,” ujarku menyudahi ciuman manis kami untuk pertama kalinya.
Ku lihat wajahnya merenggut kesal. Uh, manisnya. “Oke, karena udah larut malam, di tambah kita sama-sama masih lelah. Untuk malam ini cukup sampai sini,” ujarnya ikut berbaring di sampingku. Menyelimutiku hingga sebatas leher. Aku tertawa kecil, mengetahui dengan sengajanya dia menekankan kata ‘untuk malam ini’ padaku.
Aku tersenyum manis padanya, dia membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Di ciumnya keningku lembut, “Tidur yang nyenyak ya, Nyonya Abraham,” ucapnya tak lama. Aku mengangguk, lalu masuk kedalam dekapan hangat miliknya. Melewati malam pertama kami. Berharap kebahagiaan terus menyelimuti rumah tangga kami di hari mendatang.
Terima kasih selalu aku lantunkan padaMu, Tuhanku. Karena masih memberiku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku akan seindah ini. Laki-laki yang menjadi satu-satu nya orang yang sangat ku cintai selama ini. Yang akan menjadi imamku, yang akan membimbing diriku untuk terus berada di jalanMu. Mengajarkanku untuk menjadi istri dan seorang ibu yang baik nantinya.

END