Rabu, 25 Mei 2016

Happy Ending (Oneshoot)



Happy Ending?

***
Katakan aku gila, karena terlalu mencintai laki-laki yang bahkan tak pernah merasakan kehadiranku.
Katakan aku egois, karena egoku yang  memaksakan keinginanku untuk memiliki dirinya.
Namun, harapan hanya lah sebuah harapan. Aku tak bisa memilikinya. Satu tahun yang lalu, aku memberanikan diri. Mengungkapkan perasaanku padanya, tapi apa yang ku dapat. Aku di permalukan di depan banyak orang. Di kantin indoor kampus kami.
Menjadi orang yang terpojokkan. Menjadi sorotan mata orang yang memandangku jijik bahkan memandangku benci. Aku hanya bisa meringis dan menahan air mata yang sudah penuh di pelupuk mataku.
Sejak saat itu, aku berjanji. Aku akan membenci laki-laki itu. Laki-laki yang berhasil membuatku menghabiskan waktuku selama 3 tahun untuk selalu mencintai dirinya. Dirinya seorang. -Derry Darama Abraham-



4 tahun berlalu…
Perkenalkan namaku Nashee Adriani Dallas. Orang-orang memanggilku Nash si Nerd? Ah, itu dulu. Kini di usiaku yang sudah menginjak 25 tahun, aku sudah sedikit berubah dari si Nerd yang menjadi bulan-bulanan teman seangkatanku. Bahkan mengingatnya saja membuatku bergidik ngeri untuk merasakan hal serupa.
Saat ini, aku menekuni pekerjaanku menjadi manager di salah satu perusahaan swasta di Bandung. Selain itu, aku juga memiliki usaha WO yang kini sedang berkembang pesat di daerah Cimahi. Kenapa memilih Cimahi? Karena disana ada Mama yang mengurus usaha itu selagi aku berada di Bandung sebagai manager, tentunya.
“Nash, Papa ingin lo balik ke rumah lusa. Ada hal penting. Dan soal kerjaan lo, papa udah omongin sama om Ryan yang sekaligus menjadi bos lo disana,” ujar Kak Sena di seberang sana.
“Emang ada apaan Kak? Kok mendadak gini?”
“Ntar aja ya nanya-nanya nya Nash, kakak lagi ribet ini packing barang-barang mas Tian. Lo tahu sendiri kan?”
Aku terkekeh, yah begitulah Kak Sena yang selalu tampak sibuk setelah menikah dengan Mas Tian yang merangkap menjadi suaminya setelah berpacaran selama 4 tahun lamanya. “Okey Kak, lusa gue balik. Ngga sampai nginep kan ya? Lo tahu sendiri, masih banyak berkas yang harus gue urus, belum lagi presentasi yang belum kelar.”
“Soal nginep atau ngga, gue juga kurang tahu adikku sayang. Pokoknya kita datang ajalah dulu. Mama lagi sibuk banget, ngga bisa ngehubungi lo, jadi gue yang turun tangan.”
“Lah, Mama ngga bisa ngehubungi gue, tapi kok lo tahu sih? Pan lo juga lagi di Jakarta?”
“I don’t know Sist, And just that. Bye sayangkuh,” tutup Kak Sena.
Aku menuruni tangga darurat dengan lelahnya. Salahkan lift kantor yang sedang rusak, salahkan kantor ini pula yang tak menyediakan tangga escalator untuk kami.
Ku pijat kaki ku yang sedikit pegal, setelah sampai di sebuah café yang baru buka di seberang kantorku. Sembari menunggu kedatangan Remond yang belum terlihat batang hidungnya. Aku lebih dulu menyesap Chocolate Ice pesananku.
“Sorry dear, gue telat. Biasa habis jemput ratu gue,” terang Remond yang baru saja datang bersama sang tunangan, Falah Amaliana. Yang merupakan salah satu teman baikku ketika masih menjadi seorang mahasiswa, di Universitas Malang.
“Nash yang ngga setia. Udah mesan duluan aja nih anak,” ejek Falah, memandangiku kesal.
Aku hanya nyegir kuda sebelum menanggapinya, “Gue lagi haus banget kali Fal, pesan gih sana!”
“Udahan napa. Biar aku ya sayang yang mesan, kamu duduk disini aja,” kata Remond lembut. Itu anak hanya bisa lembut kepada Falah seorang. Kalau saja bersamaku, aku sudah seperti menjadi babu nya yang dia suruh kesana kemari.
“Uhh, macaci Remond sayang,” ucap Falah sok imut.
“Iuuuuuhh banget lo pada, pen muntah gue,” ujarku berpura-pura mual.
Mereka hanya tertawa. Yah, tertawa diatas penderitaanku yang selama ini terus menjomblo. Sepertinya kata-kataku salah. I’m sexy, free and single. NOT JOMBLO!!! Hihihi
Falah menopang wajahnya dengan kedua tangannya yang bertengger diatas meja, lalu menatapku tajam, “Why?
“Kapan lo bisa lupain cowok ngga penting itu, dan nerima sepupu gue Fredy?”
Benar-benar. Aku sampai tak bisa berkedip mendengar pertanyaan mendadak dari Falah yang tak pikir panjang itu. “Sorry, cowok ngga penting? Maksud lo?”
“Si playboy yang ngga ganteng amet itu loh, yang lo cintah sampe 3 tahun lamanya, apaan dah,” Falah dengan wajah kesalnya terus memandangiku.
“Hel to the lo… yang masih mikirin dia siapa sih?” lagi-lagi aku hanya bisa mengelak, “Lusa gue bakal balik kerumah bokap nyokap gue, so jangan kangenin gue yaaak!!” lanjutku.
Falah berdecik, “Apaan dah, kayak ngga ada kerjaan lain gitu ya gue, kangen sama lo? Ya kali.”
Hati ku sampi tertohok mendengar ucapan Falah, apa dia benar-benar serius dengan ucapannya? Benar-benar jahat. “Terserah lo aja dah, Fal.”
Suasana di luar café nampak semakin ramai, sepertinya hari sudah menjelang sore. Ku raih ponselku yang berada di dalam tas selempang kesayanganku untuk melihat jam disana, “Udah jam segini. Laki’ lo lama banget ya?” Falah hanya mengangguk menyetujui ucapanku.
“Fal, gue pulang duluan ngga papa kan ya? Gue pengen istirahat.”
“Yaudah deh, ntar gue sampein ke Remond. Lo hati-hati ya!!”
Aku mengangguk lalu berdiri dari dudukku. Kulangkahkan kaki ku menuju mobil avansa putih yang terparkir di depan café.
***
“Assalamualaikum,” ucapku, mengucap salam ketika berada di ambang pintu masuk rumah Papa. Ya, rumahku juga sih.
“Walaikumsallam,” seorang pria yang sudah berumur datang menghampiriku dengan senyum yang merekah di wajahnya. “Duh, anak papa. Semenjak kerja disana, udah lupa ya sama Papanya ini,” rajuk Papaku sembali mendekapku dalam-dalam.
“Papa lebay nih. Lagian Cimahi sama Bandung ngga sejauh jarak Indonesia ke Rusia sana kan Pa?”
“Tapi, bentar lagi kamu benar-benar ninggalin papa sama mama, sayang.”
Aku hanya bisa mengangkat satu alisku, dan tampang bingung tentunya. “Maksud papa apa deh?” selidikku.
“Kan umur kamu udah pas untuk nikah sayang. Masa iya, kamu mau jadi perawan tua mulu,” kata Papa, menarikku masuk menuju dapur.
Terlihat Mama dan Mbok Sumi yang sedang sibuk dengan masakan mereka. Entah untuk apa, aku juga tak tahu menahu. “Sore Mamaku sayang!”
Mama menoleh kearahku, lalu hanya senyum indahnya lah yang dapat ku lihat selanjutnya. “Baru datang sayang?” aku hanya mengangguk, “Naik gih, istirahat sana. Habis istirahat, dandan yang cantik ya sayang. Jangan lupa pakai dress yang udah mama dan kakak kamu siapin di kamar kamu.”
Lagi-lagi aku sangat bingung dengan situasi yang sedang ku hadapi saat ini, aku hanya menuruti perintah Mama. Dan melangkah menaiki anak tangga menuju kamarku.
Ku baringkan tubuhku di atas ranjang yang sudah lama tak terjamah olehku. Banyak kenangan di dalam ruangan ini. Kenangan termanis hingga kenangan terburuk yang tak ingin aku ingat lagi.
Tepat pukul 7 malam, aku sudah siap dengan dress pilihan Kak Sena dan juga Mama yang melekat pas di tubuhku. Warna biru navy kesukaanku dan sedikit polesan natural di wajahku. Setelah mendengar deruh mesin kendaraan yang berhenti di halaman rumah, aku buru-buru turun. Menyambut tamu yang sepertinya –memang- penting untuk Papa.
“Loh, Nashee-nya mana, Ram?” sayup-sayup ku dengar suara berat yang bertanya mengenai diriku pada Papa di ruang tengah.
“Ini dia anaknya,” sambut Papa, menyambut kedatanganku dengan suka cita. Aku pun duduk di antara mereka sembari memasang senyum seindah mungkin. “Udah besar ya kamu, duh makin cantik aja,” sedikit meleleh mendengar pujian dari perempuan cantik yang sudah berumur tepat di hadapanku.
“Iya, dulu masih kecil banget ya Ma. Coba aja kita ngga pindah ke Jakarta waktu itu,” ujar laki-laki bertampang bapak-bapak, yang ku yakini sahabat Papa itu. Aku hanya bisa menyimak dengan baik apa yang mereka ungkapkan.
“Kayaknya Nashee lupa Dev,” ucap Papa menatapku sebentar sebelum melanjutkan ucapannya, “Ini loh Nash, om Dev yang sering banget main kerumah pas kamu masih berumur 5 tahun,” terang Papa dengan tawa kecilnya.
“Duh, maaf ya om, Nash agak pelupa orangnya apalagi buat ingat kejadian yang udah lama banget…”
“… Maaf banget om,” sesalku merasa bersalah. Kedua orang yang ku tahu suami istri itu, lagi-lagi tersenyum ramah dan mengangguk mengerti akan keadaanku.
“Maaf saya datangnya terlambat…” suara seseorang yang baru saja datang, sepertinya ia sudah berdiri di belakangku. Tak ada niatan untuk menoleh, sekedar menatap orang tersebut. Toh, nanti dia juga akan duduk di dekat orang tuanya.
Suara langkah kakinya semakin terdengar, mendekati kami. Hingga ia pun duduk di sebelah Ibu nya, yang ku tahu bernama –Tyas- . aku masih menunduk, memandangi layar ponselku yang menampilkan pesan dari Falah yang belum sempat ku baca.
“Loh, kok nunduk mulu sih Nash. Ini loh, calon suami kamu di pandang dulu,”  kata Kak Sena terdengar seperti sebuah godaan bagiku. Dia membawa nampan berisi minuman untuk kami.
Aku berdecik pelan, agar tak ada yang dapat mendengarnya. “Calon suami apa deh Kak,” cibirku, mengalihkan perhatianku kearah sang tamu yang baru datang itu.
WTH. What. The. Hell !!!! What’s going on????
Please, bangunkan aku dari mimpi buruk ini. Siapapun, entah Falah , Remond, Mama, Papa, Kak Sena ataupun Mas Tian.
“Derry?” gumamku pelan. Lucunya lebih terdengar seperti bisikan yang lewat dengan udara begitu saja.
“Loh Nash, udah kenal sama Derry?” tanya Mama lebay. Aku menepuk jidatku asal. Tentu saja Mama bisa mendengar gumaman seimpritku itu, orang Mama duduk tepat di sampingku. “Jangan di tepuk dong jidatnya sayang. Kan sakit,” lagi-lagi Mama menurunkan harga diriku di depan laki-laki yang kini sangat ku benci.
Semua tertawa melihatku yang mungkin terlihat polos di mata mereka. aku menatap benci kearah Derry yang berlagak menahan tawanya. Dasar brengsek!!
“Nash, ajak Derry ke taman belakang gih. Selagi makan malam Mama siapin,” titah Mama yang disambut anggukan dari semua.
Aku berdiri, berjalan lebih dulu menuju taman belakang. Ku rasa Derry, mengekoriku di belakang. Setelah sampai, aku duduk di sebuah ayunan yang hanya memiliki satu tempat duduk. Sedangkan Derry duduk di bangku yang tak jauh dariku.
Dia masih memandangku dengan pandangan datar, berbeda denganku yang memandangnya benci. Bahkan perasaan marah yang meluap-luap. “Apa kabar, Nash?” mau mencoba membuka obrolan rupanya. Cih…
“Ck,” aku hanya berdecih haram padanya.
Ku ayunkan diriku bersama ayunan ini dengan pelan, menghiraukan Derry. “Masih dendam sama gue?” tanyanya tak lama. Lagi-lagi aku masih diam, menyaksikan bintang malam yang terlihat terang malam ini.
“Gue minta maaf mengenai hal itu, Nash. Sumpah, gue ngga pernah berniat buat lo malu atau apapun itu.”
Entah kenapa. Jantungku bekerja tak seperti biasanya. Berdetak lebih cepat. Dinding yang sudah ku bangun selama beberapa tahun ini seakan runtuh hanya karena ucapan yang tak berarti apa-apa itu. Air mataku menetes tanpa ku perintah. “Nash, lo nangis?” kalapnya, mencoba mendekatiku yang sudah turun dari ayunan.
Aku melangkah mundur, menghindar dari jangkauannya, dan mengusap wajahku kasar. “Buat apa lo kembali?”
“Setelah membuat gue malu, setelah lo buat gue jadi bahan bullyan anak-anak. Setelah lo bikin semua usaha gue sia-sia…” lanjutku.
Derry masih mencoba mendekatiku, namun lagi-lagi aku melangkah sedikit menjauh darinya. “Lo salah paham, Nash!”
“Salah paham?” aku terkekeh sinis, “Gue yakin, lo cukup bangga karena sudah berhasil bikin gue cinta sama lo dan juga berhasil buat gue patah hati.”
Dia masih diam, memandangku dengan pandangan yang terkesan sangat menyedihkan. “Itu masa lalu yang ingin banget gue lupain.”
“Tapi gue ngga Nash..” ucap Derry tiba-tiba.
“… gue ngga mungkin melupakan kenangan itu. Kenangan saat lo selalu merhatiin gue di kantin kampus. Saat lo yang selalu di tegur dosen karena ngga konsen, hanya karena gue. Lo selalu pulang telat karena nungguin gue latihan basket sampai selesai. Dan masih banyak lagi kenangan yang ngga ingin gue lupain tentang lo. Selama 3 tahun itu.”
“Ck. Lo ge-er banget ya? Kapan gue ngelakuin itu semua buat lo?” cibirku kesal akan kepercayaan dirinya yang terlalu over.
Ku lihat sebuah ukiran senyum simpul dari wajah Derry, dan tatapan lembut itu. “5 tahun yang lalu…” Derry kembali duduk di tempatnya, menatap rerumputan di bawahnya.
“… gue dapet pernyataan cinta dari seorang perempuan…” lanjutnya, aku hanya menghela napasku. Aku tahu, dia sedang membicarakan diriku.
“… dia dengan rambut kuncir kudanya dan kacamata yang sangat pas di hidung mancungnya, berani menyatakan perasaannya ke gue di hadapan orang-orang di tengah kantin kampus. Saat itu gue tersenyum dalam diam. Sebelum akhirnya gue ngedengar gelak tawa dari semua orang akan dirinya. Perasaan menyesal saat itu gue rasakan, saat lihat cewek itu nangis tepat di depan gue. Gue nyesal. Gue nyesal ngga bisa beri dia pelukan dan ngehapus air matanya saat itu. Dan gue lebih nyesal, kenapa gue ngga ngejar dia saat dia mulai menjauh, berlari menjauh dari gue.”
Ku rasakan air mataku sudah membanjiri pipiku dengan mulusnya. Aku meringis, merasakan sakit hati yang mendalam saat mengingat saat itu. Bagaimana aku tahu, dia juga merasakan hal yang sama.
“Setelah gue tahu cewek itu mulai menjauh dari gue. Lagi-lagi gue nyesal, kenapa bukan gue yang lebih dulu nyatain perasaan gue ke dia. Padahal gue juga ngerasain apa yang dia rasain,” lanjut Derry lagi.
Aku melangkah mendekatinya, berdiri tepat di hadapannya.  Dia mendongakkan kepalanya, dan pandangan kami bertemu. Mata hazel nan teduh itu sedikit meredup. tatapan yang mengisyaratkan perasaan bersalah yang mendalam. “Gue ngga tahu harus bicara apa,” ungkapku.
Aku duduk di sisi kiri Derry. “Sorry ganggu, ini makan malam buat kalian. Karena kalian berdua ngga balik-balik para orang tua udah makan malam duluan,” aku dan Derry mengangguk mengerti dan meraih piring yang berisi makanan dari Kak Sena. “Kalau gitu gue pergi deh.”
Setelah kepergian Kak Sena. Kami –Aku dan Derry– menikmati makanan kami dalam diam. Hanya suara angin malam yang terdengar, dan lagi suara sendok dan garpu yang saling beradu diatas piring.
“Gue cinta sama lo Nash,” gumam Derry di tengah acara makan kami.
Hampir saja aku tersedak karena ucapannya yang sangat mendadak itu, aku menoleh untuk sekedar memandangi wajahnya. “Setelah lulus, gue ngelanjutin kuliah gue di London. Gue pikir, gue bisa mengatasi masalah hati gue ketika udah disana.”
Aku masih terdiam, menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Derry. “Tapi gue salah. Setelah selesai dan balik ke Indonesia sebulan yang lalu. Gue malah masih betah mikirin lo yang sekarang udah gimana. Banyak bayangan tentang lo di pikiran gue.”
“Gue bahkan udah berhasil lupain lo,” ujarku dengan nada aneh.
Derry berdehem, sebelum melanjutkan ceritanya. “Gue ngga akan egois minta atau pun berharap agar lo ngga ngelupain gue. Karena gue tahu, gue juga udah terlalu banyak bikin lo sakit hati.”
Huh, ini orang. Mulutnya manis banget ya. Apa itu yang ia pelajari di London sana? Dasar.
Aku mendengus kasar, “Jadi mau lo apa?”
“Nash…” ucapnya memanggil namaku lembut, “Kita nikah yuk!!”

                                                                       -Kkeut-

Senin, 23 Mei 2016

Belajar Cerdas Bareng Quipper Video Si Media Belajar Gaul!



Ujian Nasional (UN) tingkat SMA/SMK 4 April – 6 April yang lalu telah terlaksana dengan baik secara serentak sesuai dengan ketetapan Pemerintah dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada periode tahun ajaran 2015/2016 ini. Mungkin, benar kata kakak-kakak tingkat yang sudah lulus tahun lalu, melewati tiga hari UN seakan melewati panjangnya perjalanan kami selama 3 tahun di Sekolah Menengah Atas. Apa tiga tahun kami belajar di sekolah akan sia-sia atau justu mendapat hasil memuaskan?
Di awal tahun pun, sudah ada kabar bahwa nilai UN bukanlah penentu kelulusan siswa tahun ajaran 2015/2016 tapi hanya di jadikan sebagai pemetaan pemerataan kualitas pendidikan Nasional. Namun tetap, saja siapa sih yang mau mendapat nilai rendah?
Jauh sebelum Ujian Nasional, kami para siswa dan siswi kelas XII mulai dikenalkan dengan yang namanya media belajar online yang akan membantu kami untuk menyiapkan diri dan memantapkan ilmu yang kami punya.  Mungkin di luar sana sudah banyak media belajar online yang ada. Namun, kali ini salah satu guru kami mengenalkan kami dengan yang namanya Quipper Video . Media belajar online yang memiliki fitur yang berbeda dengan media belajar online lainnya.

Quipper Video secara tak langsung juga mengajarkan kami untuk menghadapi ujian berbasis computer. Pasalnya, di tahun 2016 sudah berlaku kurikulum 2013 yang juga mulai menjalankan system CBT (Computer Based Test). Namun, untungnya masih ada beberapa sekolah yang memakai system PBT (Paper Based Test) dan sekolah aku termasuk.
Dan bagaimana aku mulai bereksperimen dengan dunia belajarku bersama Quipper Video? Di simak ya, walau tak menarik ^^ 


Di awal semester di kelas XII aku sudah mulai menjelajah di dunia Quipper School sesuai dengan info yang di berikan guru tersayangku di sekolah. Awalnya kami hanya memakai media belajar online tersebut jika ada tugas online atau pun ujian online mendadak yang di laksanakan oleh guru kami disekolah. Mengerjakan soal lalu mendapat poin jika kami memang berhasil menyelesaikan soal dengan baik.
 Namun, beberapa bulan kemudian masih dengan guru yang sama, karena memang hanya guru itulah yang menekankan kami untuk memakai media belajar online ini, mengenalkan kami dengan yang namanya Quipper Video yang saat itu memang sedang ada diskon ^^ dan Quipper Video Blog untuk membantu kita mengetahui Quipper Video lebih dalam.


Dengan semangat ’45, ya langsung aja deh aku join setelah melewati beberapa tahapan untuk benar-benar bisa masuk Quipper Video . Ketika semua murid di kelasku sudah memiliki akun Quipper Video, kami mulai mempelajari materi-materi yang memang sudah ada disana.
Kimia, memang menjadi prioritas utama kami saat itu. Mau tak mau, selama sebulan penuh aku mulai mempelajari materi-materi Kimia di Quipper Video yang mengikuti Kurikulum 2013 / K13.
Saat itu, aku mulai terkagum-kagum dengan Quipper Video pasalnya semenjak memakai Quipper Video untuk memperdalam ilmu Kimia ku yang awalnya hanya se-imprit doang, aku mulai menguasai beberapa materi.
Apa lagi dengan adanya fitur tutor melalui Quipper Video, bayangkan saja di Quipper Video ini kita-kita nih di temani oleh tutor cantik, selain itu cara menjelaskannya yang nggak ribet yang dengan mudahnya nyangkut di otak aku. Hihihi…
Seminggu sebelum UN, Kami –kelompok belajarku- mulai giat-giatnya belajar untuk mempersiapkan diri kami dan menambah ilmu kami untuk bertempur nantinya dengan memanfaatkan Quipper Video yang kami punya. Selama seminggu itu juga, ada kabar bahwa banyak kunci jabawan yang telah beredar baik kunci jawaban untuk CBT maupun PBT. Syukurnya, di sekolah kami memang menganjurkan untuk kami, siswa-siswa nya untuk tidak mudah percaya dengan segala hal yang tak pasti itu dan mengerjakan UN dengan jujur. “Jujur adalah segala-galanya, dan Jujur akan membawa kita menuju kesuksesan.”
 Hingga kami pun bertemu dengan hari H, hari dimana kami mau tak mau harus mengikuti Ujian Nasional. Mengerjakan soal Bahasa Indonesia dan Kimia di hari pertama, di lanjutkan Matematika dan Biologi di hari kedua, dan Bahasa Inggris dan Fisika di hari terakhir. Alhamdulillah, di kala banyak halangan karena soal-soal yang rumitnya minta ampun, kamu semua bisa melewati tiga hari itu.
Dan tepat tanggal 7 Mei, hari yang sebulan lamanya kami tunggu-tunggu, hari penuh kecemasan dan kekhawatiran. Tepat, di tengah malam graduation sekolah kami. Seorang guru di tengah panggung besar di lapangan sekolah mengumumkan bahwa “Kelas XII tahun ajaran 2015-2016 jurusan IPA lulus 100%” betapa bahagianya kami saat itu. Setelah itu di ikuti pengumuman untuk jurusan IPS dan juga BAHASA yang juga lulus 100% sama seperti kami yang ada di jurusan IPA.
Malam itu menjadi malam yang penuh haru. Tangis bahagia yang tak bisa di bendung lagi mulai mengiasi malam graduation kami. Kami berterima kasih sebanyak-banyaknya pada guru-guru yang telah memimbing kami selama 3 tahun. Dan ucapan terima kasih terkhusus kepada Quipper Video dariku, yang membuat nilai Kimia-ku diatas standar ^^
Setelah melewati malam menegangkan tersebut. Kami masih harus menunggu dengan cemas pengumuman SNMPTN yang akan di umumkan pada tanggal 9 Mei pukul 13.00 WIB. Dan di hari itu, tepat pukul 14.00 WITA di daerah tempat tinggalku pun mendapat hasil pengumumannya. Dan, akhirnya kebahagiaan mulai menghinggapiku lagi. Aku berhasil masuk PTN melalui jalur SNMPTN di jurusan FKIP FISIKA sesuai dengan impianku.
Meski sudah mulai tenang, karena mendapat posisi aman melalui SNMPTN. Aku masih rajin Quipperian loh. Apalagi Quipper Video memang menyediakan fitur untuk kita menghadapi SBMPTN bagi yang tidak lulus melalui jalur SNMPTN atau yang memang berniat mengikuti SBMPTN sejak awal.
Dengan modal ilmu seadanya yang masih melekat di otak, karena beberapa bulan tak di isi. Aku mulai mencoba mengerjakan soal SBMPTN yaitu TPA (Tes Potensi Akademik) dan Alhamdulillah di percobaan pertama aku mendapat grade 74% . Hihihi
Seperti itulah pengalaman belajarku bersama Quipper Video yang menjadi jalan keluar yang baik bagi anak-anak sekolah yang ingin meningkatkan kualitas dan kemampuan belajar dan juga meningkatkan nilai sekolah sepertiku tentunya ^^
So, buat teman-teman yang sebentar lagi akan mengikuti test SBMPTN, semangat ya dan jangan lupa manfaatin akun Quipper Video kalian, jangan malah dibuat sia-sia tuh akun^^

***

Big Thank's for : 
- Allah SWT
- Ayah, Ibu dan Adikku tersayang
- Sahabat terkasih