Minggu, 24 Juli 2016

Hijrah Seorang Adik (Oneshoot)





Hijrah Seorang Adik

            Islam. Agama yang masuk di perairan Indonesia sejak abad awal masehi. Bangsa Indonesia di kenal sebagai bangsa yang ramah dan terbuka pada bangsa-bangsa asing. Sikap ramah dan terbuka tersebut menjadi jalan bagi masuknya pengaruh agama dan budaya Islam di Indonesia. Sebelum hadirnya agama Islam, sebagian besar masyarakat Indonesia menganut ajaran Budha dan Hindu, dan ada beberapa yang masih menganut ajaran nenek moyang.
            Bagi seorang muslim, Islam merupakan agama yang begitu indah dan penuh dengan cinta. Islam mengajarkan umatnya untuk saling menghormati satu sama lain, toleransi antar umat beragama, patuh dan taat, kepemimpinan dan juga keyakinan yang teguh. Banyak hal yang menjadikan Islam itu sangat berarti bagi pemeluknya.
Dan kisah ini dimulai dari sebuah ketidaktahuan seorang gadis muslim akan agamanya sendiri.
Tiga tahun yang lalu menjadi masa-masa tersulit bagi Nayla Al-Nasyid, gadis cantik bergaya tomboy yang memiliki seorang kakak bernama Amar Al-Nasyid, dia dan  juga kakaknya kehilangan panutan dan pahlawan mereka. Sang Ayah.
Ayah mereka sudah menderita cukup lama dengan penyakit yang beliau derita. Kanker darah yang lebih di kenal dengan istilah Leukimia dalam bidang kedokteran. Disaat kepergian sang Ayah, Nayla yang biasa dipanggil Nana itu dengan seketika menutup dirinya. Dia sempat mengurung diri selama tiga hari didalam kamarnya.
Amar, yang merupakan sang kakak satu-satunya, tentu sama terpukulnya. Namun, ia berusaha menutupi kesedihan itu, untuk membuat ketegaran sang adik dan juga sang Ibu kembali seperti sedia kala.
Hari ke hari, bulan berganti tahun, kenangan itu pun mulai terkubur. Cukup hanya kenangan manis yang terkenang di benak masing-masing. Kini, Nana sudah berada di tahun ketiga sekolah menengah atas. Dan Amar juga sedang menyelesaikan tugas akhirnya di bidang arsitektur.
“Mas Amar, Nana berangkat sekarang. Mama juga sudah berangkat sejak tadi,” teriak Nana ketika sudah mengikat tali sepatu miliknya.
Pagi itu, sang kakak Amar memang tak sengaja telat. Dan pada akhirnya Nana harus berangkat sendiri menggunakan angkutan umum, tidak seperti biasanya. Amar dan Nana, sekali melihat pun orang-orang akan tahu bagaimana kedekatan mereka berdua. Seakan sudah ada benang yang menghubungkan mereka satu sama lain. Amar yang sejak kecil selalu melindungi Nana dari apapun, segala hal yang akan menyakiti adiknya.
“Na, pulang nanti, temenin ke mall ya, ada novel baru nih,” seorang gadis cantik menghampiri Nana yang sedang asyik menikmati jus orange nya dikantin sekolah, dan ikut duduk di hadapannya.
“Sya, aku mau nanya. Apa nggak kepanasan tuh kepala? Ngapain sih pake jilbab kayak gitu, kan nggak gaul Sya!” ucap Nana.
Syarahmah, yang biasa Nana panggil Syasa itu hanya tersenyum ramah dan mengerti apa maksud Nana. Awalnya pun ia berpikir hal yang sama dengan Nana, kenapa dia memilih memakai jilbab? Yang mengharuskan semua anggota tubuh harus tertutup.
“Ini kewajiban Na, ini kewajiban kita sebagai muslim untuk menutup aurat. Coba deh, kamu pasti suka.”
Nana tersenyum kecut kearah Syasa dan terlihat tak berminat lagi untuk melanjutkan pembicaraan tersebut.
 Nana dan Syasa, dua pribadi yang sangat berbeda. Namun, mereka nyaman satu sama lain dengan ikatan persahabatan yang mereka miliki. Saat pertama kali Syasa memilih untuk mulai memakai jilbab, Nana sangat terkejut akan perubahan sahabatnya itu. Ketika ditanya, apa yang membuat Syasa memilih jalan tersebut.
Gadis cantik bersenyum indah itu hanya akan menjawab, “Berjilbab merupakan kewajiban seorang gadis muslim. Kewajiban untuk menutup aurat, agar tidak menimbulkan zina.” Dan telinga Nana cukup pegal untuk mendengar jawaban Syasa yang selalu sama itu.
***
Ketika hari libur, Nana menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk membaca komik kesayangannya. Detective Conan. Meski begitu, Nana cukup memiliki prestasi di sekolah, dia selalu masuk kedalam 5 murid terbaik yang memiliki nilai tertinggi di kelas. Kecerdasan sang Ayah menurun kedirinya dan juga sang kakak.
“Na, selama sebulan Mas akan ke Kediri,” sang kakak yang baru saja pulang, langsung duduk di samping Nana.
“Ke Kediri? Selama sebulan? Mas, kalau Mas pergi, Nana sama siapa di sini? Rasanya sepi jika sehari saja Mas tak ada. Mama juga selalu sibuk di kantor, Nana tak punya teman Mas,” Nana mulai merengek pada kakaknya, berharap sang kakak tak akan pergi.
“Kan masih ada Syasa Na, Mas nggak mungkin membatalkan keberangkatan Mas, ini juga demi tugas akhir Mas. Kamu mau, Mas tak lulus-lulus dan terus seperti ini?”
Nana terdiam, lalu tak lama ia menggelengkan kepalanya, “Nana juga tak ingin mas tak lulus, kalau begitu Nana ikut ya mas?”
“No, no, no! Sekolahmu bagaimana? Mama? Dan ini bukan liburan Na, Mas akan sibuk disana. Mas juga akan mengerjakan proyek untuk kerja part time Mas.”
Nana hanya bisa tertunduk lesuh. Kecewa. Dia pun melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan malas. Dia tak ingin jauh dari Amar. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama kakaknya itu.
Di hari keberangkatan Amar pun, Nana tak bisa turut mengantarnya ke bandara. Dikarenakan ujian praktik yang tak bisa ia tunda. Akhirnya, Nana hanya bisa menanti kepulangan sang kakak dengan sabar.
***
Sebulan 18 hari, terlewat. Begitulah waktu yang Nana hitung hingga hari kepulangan Amar. Sudah sejam Nana dan Ibunya menunggu di bandara, namun batang hidung sang kakak tak muncul juga. Nana mulai mengantuk.
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu,” salam seseorang yang datang menghampiri mereka, yang tak lain dan tak bukan adalah Amar Al-Nasyid.
“Mas…” secara bersamaan Nana dan sang Ibu berdiri, menatap lekat seseorang yang sebulan lebih tak mereka lihat.
“Assalamualaikum, Ma, Dik Manis,” ulang Amar memberi salam.
“Walaikum sallam, mas.”
Nana yang hampir tak berkedip itu pun jalan mendahulu Amar dan Ibunya, dia terkejut dengan perubahan sang kakak. Memakai baju kokoh, dan di bawah dagunya pun sedikit ada bulu halus yang mulai tumbuh. Terkesan mendadak dan terlalu cepat, hingga membuatnya hampir tak bisa mengenali kakaknya sendiri.
***
Sebulan setelah kepulangan Amar dari Kediri. Perubahan yang semakin terlihat akan diri Amar mulai membuat Nana muak dan frustasi. Pasalnya, setelah kepulangan Amar dari Kediri, tak ada lagi Amar yang selalu mengantar Nana kemanapun Nana pergi. Tak ada lagi Amar yang akan terus memanjakannya seperti dulu.
“Mas, berhenti bertingkah seperti ini Mas. Jangan pernah ceramah di depan Nana. Apa Mas tahu, perubahan Mas ini membuat Nana bisa membenci Mas.”
Mendengar ucapan sangat adik, Amar hanya beristighfar. “Mas sudah berubah, Mas nggak peduli lagi dengan Nana, Mas tak seperti dulu.” Nana pun berlari menuju kamarnya. Membanting pintu kamarnya hingga terdengar dentuman keras karenanya.
“Bukan maksud Mas seperti itu Dik.”
Setelah pertengkaran Nana dan Amar terakhir kali, Nana memutuskan untuk tinggal beberapa hari di kediaman sang Bibi yang berada di Jakarta Selatan. “Nana sayang, ada temanmu tuh, keluar gih!” ucap sang Bibi yang baru saja membukakan pintu untuk tamu yang katanya merupakan teman Nana.
“Iya, Bi. Nana keluar dulu.”
Nana melangkah keluar, menuju ruang tamu. Baru berjarak kurang dari satu meter, Nana sudah tahu siapa yang datang mencarinya itu. Hanya Syasa yang tahu, jika ia tinggal di tempat Bibinya untuk beberapa hari.
“Na, ceritanya kamu kabur nih?” Nana hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Syasa.
“Sebenarnya kalau dibilang kabur sih nggak, soalnya Mama sama Mas Amar tahu kalau aku ada disini.”
“Ada masalah apa sih, sampai milih tinggal disini? Katanya nggak mau jauh-jauh dari Mas Amar.”
“Justru ini masalahnya ada di Mas Amar, Sya. Mas Amar nggak sayang lagi sama aku, dia sudah berubah. Sebelas dua belas sama kamu, nggak ada bedanya. Setiap hari terus menceramahiku, inilah itulah. Sudah cukup aku mendengar kamu berbicara mengenai agama di sekolah. Dan sekarang Mas Amar pun juga begitu, bahkan lebih parah.”
“Loh, bukannya bagus. Itu berarti Mas Amar sudah menemukan jati dirinya Na. Dia sudah menemukan jalan kebenaran. Istiqomah, itu point yang paling penting.”
“Istiqomah?” Nana bahkan tak mengerti sama sekali dengan satu kata itu.
“Iya, Istiqomah. Yang berarti terus berada di jalan Allah, tak akan pernah tergoyahkan akan godaan duniawi.”
“Ah, aku tak mengerti. Belajar agama sama rumitnya dengan belajar matematika. Sin cos, bla bla bla. Hanya bisa membuatku pusing.”
Tak lama terdengar suara langkah seseorang yang mulai mendekati mereka. Itu, Bibi Nana. Dan dia juga terlihat membawa sesuatu. Sang Bibi pun langsung duduk di samping Nana.
“Na, islam itu indah Na,” ucap Bibi. Dengan tiba-tiba sang Bibi memakai kan sebuah jilbab pada Nana.
“Cantik,” kata Syasa riang.
Nana melihat dirinya dari pantulan cermin yang ada di hadapannya. Di pegangnya dadanya. Jantungnya berdetak begitu kencang, dan sedikit membuatnya nyeri. Tak lama, beberapa tetesan air mata, menetes begitu saja dari mata indah Nana. Nayla Al-Nasyid.
“Bi, sepertinya selama ini Nana sudah salah,” Nana menyandarkan kepalanya pada bahu sang Bibi.
“Apa sekarang waktunya?” tanya sang Bibi.
Nana mengangguk, “Nana akan belajar, perlahan namun pasti. Nana akan mulai dari yang terkecil.”
“Dari yang terkecil, seperti apa?” tanya Syasa.
“Belajar mengaji dan mulai memakai jilbab. Setelah itu, mendalami ilmu islam lebih dalam lagi.”
Mendengar hal itu, Syasa dan Bibi Nana tersenyum bahagia. Melihat ada secerca harapan dan keinginan yang kuat di diri Nana untuk berubah. Malam itu juga, Nana pun bergegas pulang menuju rumahnya. Menemui Amar dan Ibunya. Dia pun langsung meminta maaf pada sang kakak, dan meminta dukungan serta bantuan agar kakaknya dapat membantunya untuk melewati jalan yang akan mengantarkannya akan perubahan yang lebih baik.
“Dengan keyakinan akan kebenaran Islam. Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah hamba akan berhijrah kejalan kebenaranmu.” – Nayla Al-Nasyid.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar