Minggu, 24 Juli 2016

Our Marriage ( Happy Ending? Sequel)







Our Marriage (Happy Ending? Sequel)

            Suara lembut yang mengajakku menikah dua minggu yang lalu, tak lagi terdengar oleh indera pendengaranku setelahnya. Malam itu, Derry memintaku untuk berpikir-pikir lagi akan perasaanku padanya. Dia juga memberiku waktu satu bulan lamanya. Untuk memikirkan hal tersebut.
            “Selama sebulan ini, lo harus mikirin perasaan lo yang ngga tentu arah itu. Dan selama sebulan itu juga, gue bakal balik ke London untuk ngurus study master gue disana. Bulan depan gue bakal balik ke Indonesia dan siap untuk mendengar jawaban dari lo. Nashee Adriani Dallas,” ucap Derry malam itu sebelum melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah keluargaku –Dallas Family’s – .
***
-Nash, kabar lo gimana disana? Hati lo apa kabar?-

Aku mendengus kesal, membaca pesan yang baru saja ku terima dari Derry malam ini. Ngga bisa apa yak, dia lebih romantis lagi? Ya kali aku bakal nerima dia dengan sifat dingin dan menyebalkannya dia.
-Jngan ngambek, Cuma karena gw ngga bisa romantis Nash-

Mataku melotot setelah kembali membaca pesan kedua Derry. Bagaimana dia bisa tahu aku sedang memikirkan sikapnya yang tidak peka itu. Ya, semenjak kehadirannya lagi yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Perasaan itu pun kembali muncul, seiring dengan mengenal Derry beberapa hari ini melalui via massage ataupun telpon.
Masih enggan untuk membalas pesan darinya, tak lama ponselku kembali berdering. Menampilkan nama Derry Darama Abraham di layarnya.
“Assalamualaikum,” ucapku kesidikit gugup.
“Walaikumsallam, Nash…”
“Hm…”
“Kok pesan gue ngga lo balas sih? Gue butuh kepastian nih, kan besok gue bakal kerumah lo,” gumamnya di seberang sana, entah dia sedang apa.
Kenapa aku bisa sepikun ini. Besok tepat satu bulan kepergian Derry untuk memberiku waktu menata hati yang tak tentu arah ini. “Sorry Der, gue lupa.”
Tak ada sahutan dari seberang. Hanya sebuah helaan napas yang bisa ku dengar. Apa aku mengecewakannya?
“Nash, lo masih benci sama gue?” tanya Derry, terdengar hati-hati.
“Kalau memang iya, gue bisa apa Nash. Mungkin kesalahan gue di masa lalu terlalu besar buat lo. Sekali lagi gue minta maaf…”
Aku masih berdiam diri, masih enggan untuk menjawab setiap ucapannya. Bukan benci Der. Gue udah ngga benci sama lo. Mungkin kecewa?
“Tapi, hati-hati loh. Benci sama cinta itu beda tipis. Tipiiiis banget bagi gue. Apa lagi yang benci sama gue itu lo,” candanya. Ku dengar Derry sedikit terkekeh dengan ucapannya sendiri. “Ngomong kek Nash, gue kaya orang bego gini bicara sendiri.”
“Gue ngga benci sama lo Der…”
“Terus?”
“Kecewa?” suaraku semakin terdengar lirih.
“Maaf atas segalanya Nash. Gue ngga pengen kehilangan lo lagi. Gue ngga mau jadi orang bodoh untuk kedua kalinya.”
 Mendengarnya mengatakan itu, membuatku tertawa. “Loh, kok lo ketawa?”
“Sejak kapan sih lo semanis ini Der? Dulu aja, kalau gue sapa, lo cuma bisa nunduk dan jawab ‘iya’ ke gue.”
“Itu karena gue ngga berani natap lo kali Nash,” ketusnya.
“Segitu sukanya ya lo sama gue?” aku kembali terkikik geli. “Wah, ngga nyangka cinta gue yang dulu ngga bertepuk sebelah tangan,” gumamku bahagia.
“Sekarang malah cinta gue yang terancam bertepuk sebelah tangan…”
Makin kesini ucapan Derry makin terdengar manis. Entah mengapa, kupu-kupu dalam perutku seakan beterbangan. “Gue pikir kali ini tak ada yang bertepuk sebelah tangan lagi.”
Sejenak kami sama-sama berdiam. “Hmm… udah malam gini, belum tidur?” tanya Derry.
“Belum ngantuk. Lo ada dimana sih, suara lo menggema gini?”
“Gue? Ini gue lagi ada di depan apartement lo.”
WHAT? Buru-buru aku melangkah mendekati pintu apartement yang menjadi tempat tinggalku di Bandung. Yah, malam ini aku masih tidur disini. Niatnya, besok pagi baru kembali ke Cimahi, kerumah kedua orang tuaku.
“Hai… Nash!” sapa Derry dengan senyum indah yang melekat diwajahnya.
“Masuk Der,” ucapku.
Derry mendudukkan dirinya, di sebuah sofa yang berada di ruang tengah apartement yang tak begitu luas ini. “Besok gue bakal bawa kedua orang tua gue lagi, buat lamar lo.”
Ekspresi Derry berubah menjadi sangat serius. Tanpa basi-basi, dia langsung menyampaikan apa yang mungkin ia pikirkan sejak tadi. “Hah? Loh, bukannya waktu itu udah ya?” tanyaku polos.
“Waktu itu gue cuma pengen ngikat lo aja Nash. Gue ngga pengen keduluan orang lain. Sebelum gue balik ke London, gue mau kita udah ada ikatan serius jadi lo ngga bakal nerima lamaran orang lain,” dasar kekanak-kanakan.
“Gue dengar-dengar sepupu Falah ngajak lo tunangan?” tanyanya tak lama.
Aku hanya menggaruk tengkukku yang sebenarnya tak gatal sama sekali. “Ya, faktanya itu emang bener. Lo tahu dari mana dah?”
Aku senang, akhirnya kami bisa berbicara santai seperti ini. “Ngga penting gue tahu dari mana. Yang pasti hati lo itu masih milik gue kan, Nash?”
Aku tertegun. Pertanyaan gila dengan ekspresi datar milik Derry memang tak pernah terduga. Dulu, aku memang sering ngintilin dia kemanapun dia pergi. Entah, dia merasa atau ngga. Tapi, satu fakta yang baru aku tahu. Derry type orang yang tak bisa di tebak. Sering kali datar. Kadang sifat manisnya yang meledak-ledak. Ya, baru itu yang ku rasakan selama kami saling berhubungan lewat social media.
“Ha.Ha.Ha pede banget lo,” ucapku dengan sarkartis.
“Pede dikit ngga masalah dong. Hati itu masih milik gue kan, Nash?” tanya Derry. Lagi.
GUE BUNUH JUGA LO!!!
“Iya dah iya… hati gue masih milik lo. Puas??” ketusku.
Derry tertawa sebelum bernapas legah. “Makasih Nash.”
“Kayaknya gue udah gila deh. Bisa luluh lagi sama lo, sama orang yang udah buat gue sakit hati tingkat dewa. Bikin gue mewek ngejer,” sesalku.
Bukannya menimpali ucapanku. Derry justru memelukku sangat erat. Untuk pertama kalinya. Tiba-tiba saja udara ruangan ini semakin berkurang menurutku. Jantungku yang sejak tadi sudah tak bisa berkompromi makin parah karena ulah Derry yang mendadak ini. “Der, bukan mukhrim.”
Derry melepas pelukannya dan menyegir kuda kearahku. “Pertama, terima kasih karena lo udah ngejaga hati lo buat cowok brengsek kayak gue. Dan yang kedua, gue minta maaf karena udah buat lo sakit hati dan buat lo akhirnya menangis.”
***
Ku lihat Derry sudah tertidur pulas di atas ranjang king size di kamar hotel tempat kami menginap. Sesuai dengan perkiraan kalian. Yup, aku dan Derry baru saja menyelesaikan ritual yang biasa orang bilang resepsi pernikahan. Karena banyak rekan bisnis Papa dan juga Ayah Derry yang datang, ku yakini Derry sama lelahnya sepertiku yang sudah tak kuat untuk berdiri lagi.
Namun, karena kebiasaanku yang harus mandi sebelum tidur akhirnya ku paksakan kakiku melangkah masuk kedalam kamar mandi. Mengisi penuh bath-up dengan air dan memilih untuk berendam untuk merilekskan saraf-sarafku yang kuyakini sudah tegang sejak tadi.
Setelah selesai, aku melangkah keluar dengan hanya memakai kimono yang ada di dalam kamar mandi hotel. Ku lihat Derry tak ada lagi di tempatnya. Ku putar pandanganku kearah balkon kamar. Tebakanku benar. Derry berdiri terpaku di sana, dengan kedua tangan yang di lipat di depan dadanya.
“Tak ingin mandi?” tanyaku, ikut berdiri di sampingnya. “Cuaca cukup cerah, bintangnya lumayan banyak malam ini,” gumamku mencoba basa-basi, yah untuk mengusir kecanggungan yang menghinggapi kami.
Aku menoleh untuk sekedar melihat wajah lelah Derry, dia tersenyum sembari membuang muka ke udara, “Mereka seperti ikut berbahagia bersama kita,” lirihnya.
Dengan berani aku memeluk Derry dari samping, menenggelamkan kepalaku di dada bidangnya. “Makasih Der,” suaraku dengan sedikit terisak.
Air mata kebahagiaan tak dapat lagi ku tahan, Derry melepas dekapannya padaku. Menatapku lembut, tak lama sentuhan lembutnya di wajahku dapat kurasakan. Menghapus air bening yang mengalir indah di pipi ku. “Jangan nangis dong Nash, gue jadi pengen nangis juga,” cibirnya. Dramatis. Dan terkesan L.E.B.A.Y!
Ku cubit perutnya gemas, “Romantis dikit kek Der. Suasananya lagi gini, masih aja ngomong ngasal. Ngga lucu tahu ngga?”
Di tertawa kecil, kemudian menarikku masuk kedalam dekapan hangat miliknya. Menghirup aroma tubuh yang sekarang menjelma menjadi ‘suami’  bagiku, mungkin kegiatan ini akan menjadi candu bagiku. Aroma mint yang menyeruak dari napasnya yang menerpa kulit leherku. Darahku berdesir, membuat tubuhku terserang stroke untuk beberapa detik. Katakan aku lebay ataupun kekanak-kanakan. Seperti anak ABG yang baru pertama kali merasakan apa itu cinta. Dan merasakan bagaimana di hargai oleh orang yang kita cinta.
“Huuh,” lenguhku. “Der, disini dingin. Masuk yuk, terus kamu mandi. Aku ngga mau tidur sama orang bau,” ucapku kalem. Meninggalkan Derry yang terlihat kesal karena ucapanku.
Selagi Derry membersihkan diri. Aku memilih untuk menonton siaran TV. Berhubung sebelum pulang kami sudah mengisi perut jadi tak akan ada yang kelaparan malam ini, jadi aku memilih menonton acara TV tengah malam. Yang katanya, memiliki rating 21+ . Sejujurnya aku belum pernah nonton film yang ‘iya iya’ selama ini. Maklum masih anak Mama dan Papa jadi masih tahu diri lah. Mana yang boleh dan mana yang tidak.
“Ehem,” deheman Derry hanya membuatkah terkekeh namun tetap menghiraukannya. “Nonton apaan sih? Serius banget,” ucap Derry. Menjatuhkan bokongnya tepat di sebelahku.
Derry mengikuti arah pandangku, sepertinya dia juga tertarik. Di tengah keseriusan kami. Tiba-tiba saja, adegan di film itu membuatku bergidik ngeri. Tanpa terasa tanganku sudah sedikit mendingin dari sebelumnya, belum lagi air keringat yang tiba-tiba berucucuran di pelipisku. Lagi-lagi, aku seperti anak di bawah umur, yang merinding menyaksikan adegan ranjang yang panas itu. Duh, malu sendiri.
Aku menoleh kearah Derry. Dia masih serius dengan ekspresi datar miliknya. Aku kembali menghela napas untuk kesekian kalinya. Hingga akhirnya, Derry merebut remote TV dari genggamanku. Menekan tombol merah , yang berarti ia mematikan TV dengan seenaknya.
“Kok malah di matiin sih?” tanyaku sebal. Aku berdecak kesal, lalu bangkit dari sofa menuju pantry.
Aku tahu, Derry pasti mengikutiku. Dapat ku dengar langkah kakinya yang berjalan tepat di belakangku. Hingga, ku rasakan tangan kekarnya menarik tanganku dengan tidak sabarnya. Aku menatapnya tajam, seakan bertanya ‘kenapa?’
Derry mengecup singkat bibirku. Tentu saja aku membelalakkan mataku, karena sedikit terkejut. Manis. Itu yang ku rasakan beberapa detik yang lalu. Ku lihat Derry tersenyum, namun malah seperti seringaian bagiku. Buru-buru aku berubah haluan, masuk kedalam kamar dan menenggelamkan diri di bawah selimut tebal milik kami malam ini.
Aku tahu, di tempat ini Derry semakin leluasa melaksanakan rencana gila yang dapat ku tangkap dari tatapan mesum miliknya tadi.
Seperti dugaanku, kurasakan ranjang sedikit bergoyang karena kedatangan Derry. “Nash, kok malah kabur sih?”
“Muka kamu mesum banget tadi. Aku takut sendiri,” keluhku masih menutup diri.
Ku dengar Derry tertawa, bahkan sangat keras. Aku menyisihkan selimut dari tubuhku. Melihatnya yang masih asyik tertawa. Tepatnya menertawakan diriku yang kekanak-kanakan?
“Kamu lucu, aku makin cinta sama kamu.”
“Duh, kok jadi anak ABG gini?” tanyaku, menepuk jidat asal.
Derry kembali terkekeh, “Biarin!” sebelum menimpali ucapannya. Sudah kurasakan kecupan kilat yang ia lakukan. Lagi. Yah, itu awalnya.
Kecupan singkat yang kudapatkan darinya, hanya mendapat balasan tegang dariku. Ku lihat dia kembali tesenyum manis kearahku. Aku sedikit kesal, dia seperti mempermainkanku. Dengan cepat ku sambar bibir penuh miliknya. Aku tahu dia cukup terkejut dengan tindakanku. Namun, ku rasakan seringaiannya di tengah ciuman kami. Dia menarik tengkukku untuk memperdalam ciuman kami. Tanganku bertengger di antara dada bidang miliknya.
“Untuk malam ini, cukup sampai sini ya sayang,” ujarku menyudahi ciuman manis kami untuk pertama kalinya.
Ku lihat wajahnya merenggut kesal. Uh, manisnya. “Oke, karena udah larut malam, di tambah kita sama-sama masih lelah. Untuk malam ini cukup sampai sini,” ujarnya ikut berbaring di sampingku. Menyelimutiku hingga sebatas leher. Aku tertawa kecil, mengetahui dengan sengajanya dia menekankan kata ‘untuk malam ini’ padaku.
Aku tersenyum manis padanya, dia membalas dengan senyuman yang tak kalah manisnya. Di ciumnya keningku lembut, “Tidur yang nyenyak ya, Nyonya Abraham,” ucapnya tak lama. Aku mengangguk, lalu masuk kedalam dekapan hangat miliknya. Melewati malam pertama kami. Berharap kebahagiaan terus menyelimuti rumah tangga kami di hari mendatang.
Terima kasih selalu aku lantunkan padaMu, Tuhanku. Karena masih memberiku kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku akan seindah ini. Laki-laki yang menjadi satu-satu nya orang yang sangat ku cintai selama ini. Yang akan menjadi imamku, yang akan membimbing diriku untuk terus berada di jalanMu. Mengajarkanku untuk menjadi istri dan seorang ibu yang baik nantinya.

END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar